Malam itu hujan deras sekali, dengan membawa payung dan obor, nenek selalu mengajak kami berdua beserta kakakku berangkat ke musholla untuk tidak melewatkan sholat tarawih. Kala itu di tahun 90an jalan masih setapak, penerangan jalan masih minim belum seperti sekarang. Selesai Witir langsung berburu tanda tangan takmir masjid, salah satu kewajiban kami melaporkan kegiatan tarawih kepada guru agama SD. Makan sahur rasanya kurang pas jika tak mendengarkan sholawat Tarkhim ala Syekh Mahmud Khalil al-Hussary dari siaran radio lokal. Jalan raya di ujung gang rumah kami selalu terlihat ramai bak ada pawai setiap selesai sholat Subuh. Muda - mudi cuci mata atau sekedar jalan - jalan berolahraga ringan, bersepeda atau mendengarkan lagu andalan dari tape compo, seperti "Kirana" Dewa 19 atau "Kita" Sheila On 7. Kerinduan itu terlampau kuat tatkala menunggu kedatangan emak kami pulang dari Surabaya, memastikan akan tiba di rumah sebelum kumandang takbir memenuhi langit. Memakai baju baru adalah kebahagian kami ketika matahari mulai menampakkan wajahnya, menyapa mereka yang bergegas menuju musholla, masjid atau lapangan tunaikan sholat Idul Fitri."Selamat pagi pendengar radio ADS FM Trenggalek tentunya tak sabar menunggu lagu - lagu hits yang akan saya luncurkan ke ruang dengar kamu ....Apa kabar dengan lebaran yang sudah di depan mata? Siap dengan baju baru atau masih pikir - pikir untuk tentukan jawaban ketika ditanya nenek tentang jodoh?hihihiihihi...."
Setiap kali lewat jalan KH. Ahmad Dahlan, nomor 28 adalah angka yang sulit hilang dari ingatan. Walau sekarang sudah berdiri rumah mewah, radio legendaris itu akan tetap menjadi kenangan. Siaran di waktu bulan Ramadhan memberi kesan mendalam terutama pada jam sahur atau buka puasa. Berkerjasama hampir sepuluh tahun dengan orang - orang hebat, unik, jiwa pertemanan tinggi dan bahkan selalu menganggap kami semua adalah satu keluarga. Motor supra-X silver sering saya bawa ketika pacaran, karena kata bos itu inventaris kantor jadi bebas aja. Bakso dorong langganan yang selalu terasa enak disantap saat hujan mulai turun sehabis maghrib (lupa nama abangnya). Atau cerita - cerita horor yang selalu saya dapat dari orang lain tentang studio radio ini, padahal saya juga sering tidur di mes (kamar pojok belakang).
Lebih menyenangkan lagi ketika sering mendapat kiriman makanan dari pendengar setia, karena dianggapkan acara kami membantu pemasaran usaha mereka. Apabila bulan puasa tiba selalu antusias untuk membagikan produk sponsor larutan penyegar ke tiga puluh masjid yang ada di Trenggalek. Atau relay pengajian kitab kuning dari pondok pesantren untuk di live kan. Dari stusdi inilah saya belajar banyak hal tentang apa saja, editing, menulis, jurnalis, atau EO sekalipun. Sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan dari bangku sekolah.
Dihari kemenangan nan iitri ini ..do'a terbaik dan alfatihah buat mereka....
My best big bos..alm. Pak Sugik
alm. Mbak Titin orang paling tersabar dan sangat baik yang pernah saya temui
alm. Mak Ria, orang yang tidak pelit ilmu, selalu memberikan spirit baru setiap hari
Juga untuk kang Dimas, Yu Sonya, Yo Kanthi Nabila (yang akhirnya kita ketemu lagi di pekerjaan yang sama). Terima kasih kalian semua sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Pesan baik kalian atau kejutan -kejutan receh di hari ulang tahunku (pagi - pagi disemprot air kran) akan selalu saya ingat.
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1444 H/ 2023 M
Minal Aidin Wal Faizdin Mohon Maaf Lahir dan Batin
0 Komentar