Belajar Kearifan Lokal di Balik Cantiknya Alam Desa Wisata Pandean

MasKaboel – Merasa  jenuh, bosan, stres berkepanjangan karena hampir setiap hari dihadapkan dengan suasana itu – itu saja di tempat kerja. Ditambah beban pekerjaan di kantor yang menyita banyak tenaga dan pikiran. Kalau sudah seperti ini, berarti kamu harus segera membuat agenda untuk liburan. Kalaupun liburannya ke kota - kota besar pasti kurang asik dan menarik kan?. Yang ada dipikiran suasana hijau, adem, sunyi, jauh dari hiruk pikuk pusat ibu kota.. Persis di pesisir selatan provinsi Jawa Timur, kabupaten Trenggalek kini bisa menjadi alternatif pilihan sebagai lokasi berlibur. Ada berbagai tempat wisata yang recommended untuk dikunjungi salah satunya desa wisata Pandean. Keunikan desa wisata ini menggabungkan antara kearifan lokal dengan keindahan alam menjadi satu paket wisata menarik.

Desa Wisata Watukandang Pandean Kecamatan Dongko Trenggalek berhasil menorehkan prestasi dengan meraih Juara Harapan I Kategori Desa Wisata Berkembang. Trofi juara diterima langsung oleh Ketua Pokdarwis Arum Dewi Pulosari, Ririn Setyo Widiastuti saat malam Puncak Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 di Gedung Sapta Pesona Kemenparekraf RI. Menyandang gelar sekeren ini, desa wisata Pandean sudah selayaknya masuk list liburan akhir tahun kamu.


Pasca pandemic covid-19 model paket desa wisata bisa dikatakan mulai eksis dan dilirik para traveler. Mereka ingin bebas menikmati dunia luar karena hampir dua tahun lebih mengalami pembatasan aktifitas. Sepanjang jalan menuju desa Pandean kamu akan disuguhi pemandangan alam khas pegunungan. Jalan mulus berkelok - kelok, naik turun diantara barisan pohon - pohon pinus. Jika beruntung kamu bisa merasakan sensasi menembus kabut tebal di pagi hari ditambah keelokan matahari yang muncul malu - malu. Desa Pandean yang merupakan daerah pegunungan berhawa sejuk. Ada sungai dengan kontur bebatuan menambah eksotis alam desa. Menteri Parisisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Bapak Sandiaga Uno saja sudah pernah lho datang ke desa wisata Pandean, kamu kapan? Apa saja sih yang ditawarkan oleh pengelola desa Wisata Pandean? yuuukk..kita kepoin!!


1. River Tubing


River Tubing adalah kegiatan bernuansa air baru dengan ban dalam mobil truk yang di kreasikan sedemikian rupa. Mulai diberi pegangan tali webbing, serta pada bagian tengah bulatan ban dibuat tempat duduk dari bahan latex atau spon tebal. River tubing sendiri sedikit banyak mengadopsi ide dari perahu boat rafting. Bedanya, kalau perahu rafting bahan bakunya menggunakan bahan pvc atau hipalon, sedangkan river tubing menggunakan bahan karet ban dalam mobil. Penggunaan ban mobil sendiri ditujukan demi kenyamanan tempat duduk sekaligus menghindari benturan batu waktu melewati jeram yang menantang. River tubing ini memberi sensasi adrenalin di sungai besar dan hanya diperuntukan buat orang dewasa yang gemar tantangan.


Di desa wisata Pandean kamu juga bisa mencoba river tubing di sungai Konang yang mengalir menuju taman Watu Kandang. Memiliki air jernih mengalir di antara batu – batu besar membuat orang betah berlama lama bermain air dengan sensasi jeram. Apalagi sepanjang jalur, pepohonan hijau menambah kenyamanan siapapun yang mencoba kegiatan olahraga air ini.


2. River Camp

Suka merelaksasi diri setelah menjalani rutinitas pekerjaan melelahkan menjadi kebutuhan bagi siapa saja. Berlibur di tengah keindahan alam yang asri bisa menjadi pilihan tepat melepaskan penat. Desa wisata Pandean menyediakan lokasi untuk river camp bagi pengunjung yang ingin bermalam. Selain sudah tersedia homestay di beberapa lokasi, tidak ada salahnya pengunjung mencoba river camp masih di lokasi taman wisata Watu Kandang. Budget pas – pasan tidak masalah karena harga sewa untuk fasilitas ini nggak mahal kok. Mulai dari dua ratus ribu rupiah sudah bisa untuk rame – rame dengan teman atau keluarga.


3.Menikmati Musik Tradisional Kothek Lesung, Terbangan dan Seni Karawitan

Sebagian besar masyarakat desa Pandean masih berusaha menjaga keberadaan aktifitas seni tradisional. Salah satu yang terus dikembangkan adalah seni karawitan. Memakai seperangkat gamelan karawitan dimainkan oleh sekelompok lansia dengan gending gending asli tempo dulu ( klenengan ). Sangat cocok jika didengarkan saat makan siang dengan menikmati suasa alam pedesaan.


Lebih unik lagi yaitu kothekan lesung yang diperkirakan sudah ada sejak zaman penjajahan. Lesung adalah alat tradisional untuk pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi alat ini memisahkan kulit gabah (sekam) sehingga menjadi beras secara mekanik. Lesung atau dalam bahasa Jawa disebut “lumpang” terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil memiliki panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 cm. Lesung sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar dibuang bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut, lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam.


Sedangkan pada kothekan lesung sendiri merupakan suatu hiburan yang dilakukan oleh wanita – wanita  petani zaman dahulu dengan memukul-mukulkan alat penumbuk padi sehingga menimbulkan nada-nada tertentu dan terdengar alami. Selain sebagai hiburan, kothekan juga perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ketika panen raya. Pada pentas kali ini digunakan satu buah lesung dengan delapan orang untuk menabuh lesung tersebut, dan dua belas wanita lagi yang memperagakan petani sedang menanam padi, serta didukung oleh delapan pria berperan sebagai petani dengan membawa hasil panen.


Ada satu lagi seni tradisi di desa wisata Pandean yaitu terbangan ello yang sudah langka. Sangat sederhana karena hanya menggunakan alat semacam rebana, jedor  dan kendang panjang. Musik tradisional ini menjadi istimewa karena di mainkan oleh delapan orang laki - laki yang sudah lansia namun memiliki alunan suara ( vocal ) melengking tinggi dinamakan ngelik. Tidak semua orang bisa membawakan vocal terbangan ini, karena perlu teknik  tinggi. Apa


 4. Mencoba Aktifitas Masyarakat Desa

Aktifitas masyarakat desa bisa menjadi pengalaman baru yang mungkin jarang dilakukan oleh masyarakat modern sekarang ini. Di desa wisata Pandean sendiri masih bisa ditemui budaya masyarakat ramah lingkungan dan sangat menjaga ekosistem sungai yakni pasang bengkeng ( pasang bubu )  di sungai. Beranekaragam ikan air tawar menambah kekayaan alam desa Pandean sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.


Tahun nggak kalau aktifitas angon wedus (menggembala kambing) merupakan potensi wisata yang sangat diminati. Keindahan alam dan rumput hijau segar, sangat melimpah di sepanjang aliran sungai menjadikan kambing berkembang dengan baik. Sensasi nuntun, makani wedus itulah yang justru membuat pengunung enggan bergeser pulang. Aliran sungai jernih dan bebas sampah sangat cocok untuk kegiatan umbah -  umbah (mencuci baju) menggunakan klerak ( sabun jaman dulu ) dan tentunya bermain air ( koceh ).


5.  Oleh - oleh Khas Trenggalek

Sepulang dari tempat liburan belum lengkap rasanya kalau tidak berburu oleh - oleh khas daerah setempat. Batik Trenggalek bisa menjadi pilihan bagi kamu yang gemar berburu buah tangan. Batik Trenggalek memiliki beberapa motif batik dengan menambahkan ciri khas tumbuhan cengkeh.. Tumbuhan cengkeh menjadi ornamen utama dalam motif batik Trenggalek karena memang merupakan salah satu komoditi utama hasil pertanian dari wilayah trenggalek ini.


Selain oleh – oleh batik, Trenggalek juga memiliki beragam kuliner dan camilan yang hanya bisa ditemui disini. Alen – alen dan tempe keripik wajib berada di list belanja kamu untuk dibwa pulang ke rumah. Apalagi  kamu beruntung bisa dapat durian dengan harga murah pas panen raya durian. 

#SemangatUntukHariIniDanMasaDepanIndonesia 

#KitaSATUIndonesia






0 Komentar