Menutup lembaran tahun 2025,
Masih banyak masalah - masalah di dunia pendidikan menjadi PR bagi pemerintah. Gaji tiga ratus ribu yang masih banyak diterima guru honorer. Perjuangan guru PPG prajab yang masih kurang jelas nasibnya dikarenakan belum masuk data base dapodik. Serta anggaran pendidikan yang semakin dikurangi, sehingga berdampak pada minimnya sarana prasarana pendukung kualitas pendidikan kita. Aspirasi guru di Indonesia telah bergeser dari sekadar tuntutan kesejahteraan dasar menuju keinginan untuk menjadi pendidik profesional yang berdaya. Guru saat ini tidak hanya ingin "mengajar", tetapi menjadi agen perubahan didukung oleh sistem yang suportif.
Upah layak tetap menjadi prioritas utama, terutama bagi para guru honorer dan mereka yang berada di daerah terpencil. Mereka juga hanya bisa berharap supaya proses rekrutmen ASN (PNS maupun PPPK) lebih transparan, cepat, dan tidak berbelit-belit.
Salah satu keluhan terbesar guru adalah banyaknya waktu yang habis untuk urusan dokumen daripada mendampingi siswa. Mereka mendambakan platform (seperti PMM atau sistem lainnya) yang benar-benar memangkas birokrasi, bukan malah menambah beban pengisian data harian yang repetitif. Fokus pada Pembelajaran: Guru ingin kembali ke peran utama mereka: mendampingi siswa dan melakukan inovasi di dalam kelas.


0 Komentar